KNMTI di Kota Kupang: Sekda Tantang Mahasiswa Teologi Buktikan Iman lewat Aksi Nyata

Kamis, 10 September 2026 | 11:14:38
Gambar Berita

Foto: PKP_abi letman

Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, S.H., menantang mahasiswa teologi dari berbagai daerah di Indonesia untuk membawa iman keluar dari ruang ibadah dan menjadikannya kekuatan yang nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Jeffry saat menghadiri pembukaan Konsultasi Nasional Mahasiswa Teologi Indonesia (KNMTI) Tahun 2026 di Kapela Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Senin (7/9).

Menurut Jeffry, tema KNMTI tahun ini, “Liturgy of Life and Spirituality”, sangat relevan dengan tantangan kehidupan masyarakat saat ini. Liturgi dan spiritualitas, katanya, tidak boleh berhenti sebagai ritual maupun pengetahuan teologis, tetapi harus diterjemahkan menjadi tindakan yang menghadirkan kasih, keadilan, kepedulian, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan. “Iman tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi harus hidup di tengah-tengah tempat Tuhan mengutus kita,” ujar Jeffry.

Ia mengatakan, mahasiswa teologi memiliki posisi strategis untuk membaca berbagai persoalan kemanusiaan sekaligus ikut mencari jalan keluarnya. Kemiskinan, stunting, intoleransi, kerusakan lingkungan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, hingga berbagai persoalan sosial lainnya membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk gereja dan generasi muda. “Ilmu teologi harus membuat kita semakin peka melihat persoalan manusia, dan iman harus membuat kita berani mengambil bagian untuk menyelesaikannya,” tegasnya.

Bagi Sekda, tantangan terbesar pendidikan teologi bukan hanya melahirkan orang yang mampu berbicara tentang Tuhan, tetapi membentuk pribadi yang mampu memperlihatkan nilai-nilai iman melalui karakter dan tindakan.

Karena itu, ia mendorong para peserta KNMTI untuk tidak menjadikan forum nasional tersebut sekadar ruang bertukar gagasan. Berbagai persoalan yang mereka temui di masyarakat, menurutnya, harus menjadi bagian dari proses belajar dan refleksi untuk melahirkan model pelayanan yang lebih kontekstual. “Manfaatkan masa belajar ini dengan baik, tidak hanya di dalam ruang kuliah, tetapi juga belajar dari kehidupan nyata di tengah masyarakat,” katanya.

Jeffry juga mengingatkan mahasiswa mengenai tantangan baru di ruang digital. Perkembangan teknologi informasi, menurutnya, membawa banyak manfaat, tetapi juga dapat menjadi ruang berkembangnya hoaks, ujaran kebencian, dan berbagai perilaku negatif. “Handphone-nya pintar, tetapi jangan sampai yang memegangnya tidak bijak,” ujarnya. Ia berharap generasi muda, termasuk mahasiswa teologi, mampu menggunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, memperkuat persaudaraan, dan membangun kehidupan sosial yang lebih sehat.

Pemerintah Kota Kupang, lanjut Jeffry, melihat gereja, lembaga pendidikan teologi, mahasiswa, dan pemerintah sebagai bagian dari ekosistem yang sama dalam membangun masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, demikian pula gereja. Kolaborasi keduanya diperlukan untuk memperkuat nilai moral, etika, kepedulian sosial, dan kemanusiaan.

Sementara itu, Rektor UKAW Kupang, Prof. Dr. Ir. Godlief Frederik Neonufa, M.T., menegaskan bahwa konsep Liturgy of Life mengajak setiap orang menjadikan seluruh kehidupannya sebagai bentuk ibadah.

Menurutnya, liturgi justru dimulai ketika umat meninggalkan gedung gereja dan berhadapan dengan realitas kehidupan. Kejujuran, pelayanan tanpa pamrih, keberanian membela yang lemah, menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, serta menghadirkan keadilan dan kasih merupakan wujud konkret dari spiritualitas.

“Pulanglah dari forum ini bukan hanya dengan catatan baru, tetapi dengan panggilan yang semakin diteguhkan untuk menjadi pelayan Tuhan yang menghadirkan kasih, keadilan, dan pengharapan di tengah dunia,” pesan Godlief.

Ketua Panitia Pelaksana KNMTI, Pdt. Dr. Thomas Ly, M.Th., mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari dengan agenda ceramah, diskusi kelompok, refleksi, dan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi di Kota Kupang. KNMTI 2026 diikuti sekitar 40 peserta dari 18 sekolah teologi di Indonesia.

Thomas mengatakan pelaksanaan KNMTI tahun ini berlangsung di tengah tantangan, termasuk dampak psikologis pascagempa di wilayah Flores dan gangguan penerbangan yang memengaruhi perjalanan sejumlah peserta dari Indonesia bagian barat. Dari target awal sekitar 70–80 peserta, sebanyak 18 sekolah teologi tetap dapat hadir dan berpartisipasi.

Ia berharap forum tersebut membantu peserta memahami bahwa liturgi bukan hanya praktik ritual di dalam gereja, tetapi juga cara menghadirkan pelayanan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. *PKP_chris dethan/ansel ladjar* 

Siaran Pers oleh Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kupang

Kembali