Sekda Apresiasi Lomba Kidung Rohani GMIT Kota Kupang: Iman, Persaudaraan, dan Ekonomi Bergerak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:38:11
Gambar Berita

Foto: PKP_abi letman

Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jefry Edward Pelt, S.H., mengapresiasi Lomba Kidung Rohani Season 3 “1614 Broeck Harmony” yang dinilai tidak hanya memperkuat pembinaan iman dan kreativitas generasi muda, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan jemaat dan pelaku UMKM.

“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Kupang, mewakili Pak Wali Kota dan Ibu Wakil, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemuda GMIT Kota Kupang. Saya agak sedikit kaget, acara malam ini spektakuler dan luar biasa! Kita bisa membuat sesuatu yang besar demi kebanggaan serta untuk hormat dan kemuliaan nama Bapa di surga,” ujar Jefry saat menutup kegiatan di pelataran Gereja Tua GMIT Kota Kupang, Kamis malam (13/8).

Menurut Sekda, kegiatan keagamaan seperti Kidung Rohani memiliki makna yang lebih luas ketika nilai-nilai yang disampaikan melalui lagu dan musik gerejawi dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berpesan agar keindahan nada dan pesan dalam kidung rohani tidak berhenti di atas panggung perlombaan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, terutama dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. “Teruslah bernyanyi, teruslah berkarya, dan biarlah suara kita menghidupkan iman serta mempererat persaudaraan di Kota Kupang,” pesannya.

Jefry juga menyoroti keterlibatan sejumlah jemaat dalam kegiatan tersebut sebagai bukti bahwa kegiatan berbasis komunitas dapat memberi dampak langsung terhadap perekonomian lokal. “Terima kasih untuk kurang lebih ada 11 gereja yang terlibat selain tuan rumah. Keterlibatan ini membuktikan bahwa lewat kegiatan ini ada aktivitas ekonomi yang bergerak dan UMKM yang hidup. Gereja telah membantu pemerintah dalam menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat,” katanya.

Ia juga mengapresiasi sejarah panjang Gereja GMIT Kota Kupang yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat Kota Kupang. Menurutnya, perjalanan gereja yang telah mencapai 412 tahun tidak hanya mencerminkan warisan sejarah, tetapi juga perjalanan panjang yang telah melahirkan banyak tokoh yang berkontribusi bagi daerah.

Jefry menegaskan bahwa seluruh peserta yang mengikuti kompetisi tersebut pada dasarnya telah menjadi pemenang karena berani tampil, berkarya dan mengambil bagian dalam membangun kehidupan gereja melalui talenta yang dimiliki.

“Menang atau kalah adalah hal biasa. Tetapi ingatlah, saat Anda mendaftar untuk mengikuti perlombaan, Anda sesungguhnya telah menjadi pemenang,” ujarnya sebelum secara resmi menutup rangkaian kegiatan.

Lomba Kidung Rohani Season 3 “1614 Broeck Harmony” diselenggarakan Pemuda Jemaat GMIT Kota Kupang dengan mengusung tema “From Legacy to Living Harmony: Where the Old Church Still Sings.”

Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembinaan generasi muda melalui seni dan musik gerejawi sekaligus upaya menghidupkan kembali warisan kidung iman agar tetap relevan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ketua Panitia Pelaksana, Sukma Weyna, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk pembinaan generasi muda untuk membangun kehidupan gereja yang kreatif, partisipatif dan edukatif, serta berakar pada nilai-nilai iman Kristen.

“Kami percaya bahwa warisan tidak boleh berhenti hanya sebagai sesuatu yang dikenang, melainkan harus dihidupkan. Melalui generasi hari ini, kidung-kidung iman yang telah dinyanyikan oleh generasi terdahulu dapat terus bergema dan menjadi kesaksian bagi generasi yang akan datang,” ungkapnya.

Rangkaian kompetisi berlangsung sejak tahap pendaftaran pada 18 Mei hingga 30 Juni 2026 dan diikuti 19 peserta. Seleksi kemudian berlanjut melalui audisi pada 18 Juli, babak eliminasi pada 1 Agustus, semifinal pada 7 Agustus, hingga menyisakan tujuh finalis yang tampil pada malam puncak, 13 Agustus 2026.

Sukma menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, dewan juri, panitia, pimpinan GMIT Kota Kupang, para sponsor dan mitra, serta orang tua peserta yang telah mendukung seluruh rangkaian kegiatan.

Ia berharap “1614 Broeck Harmony” tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan, tetapi berkembang menjadi gerakan untuk terus menghidupkan musik gerejawi di tengah generasi muda.

“Kita mungkin datang dengan suara yang berbeda, tetapi malam ini kita berdiri dalam satu harmoni. Bukan tentang siapa yang paling tinggi suaranya, melainkan bagaimana suara kita bersama-sama dapat menjadi kesaksian tentang kasih dan kebaikan Tuhan,” katanya.

Penutupan kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi sikap iman Jemaat GMIT Kota Kupang yang dipimpin Ketua Majelis Jemaat GMIT Kota Kupang, Pdt. Olfi Magang-Mooy, S.Th., M.Hum.

Deklarasi tersebut membahas sikap gereja terhadap sejumlah isu sosial dan perkembangan zaman, termasuk isu LGBTQ. Dalam penyampaiannya, Pdt. Olfi menegaskan bahwa sikap gereja tersebut didasarkan pada keyakinan iman dan pemahaman gereja terhadap firman Tuhan, sembari menekankan pentingnya memperlakukan setiap manusia dengan martabat dan kasih. “Menyatakan kebenaran tidak berarti harus membenci manusia. Setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan nilai di hadapan-Nya,” tegasnya.

Rangkaian penutupan “1614 Broeck Harmony” Season 3 tersebut diakhiri dengan seruan bersama “Soli Deo Gloria” atau “Hanya bagi Allah kemuliaan”.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi NTT Simson Polin, Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusy Dethan, Ketua dan Majelis Jemaat Harian GMIT Kota Kupang, para Ketua Lingkungan 1–9, Pengurus Pemuda Klasis Kota Kupang, Pengurus Pemuda JKK Demisioner, UPP Pemuda Jemaat Kota Kupang, Pengurus Pemuda Jemaat Kota Kupang, tim pelaksana lomba, para peserta dan jemaat GMIT Kota Kupang. *PKP_tamar ndapatady/ansel ladjar*

Siaran Pers oleh Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kupang

Kembali