Wali Kota dan Wawali Kompak Kenakan Busana Adat Flores di HUT RI, Sampaikan Solidaritas untuk Korban Gempa

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:19:02
Gambar Berita

Foto: PKP_crew dokpim

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., menunjukkan solidaritas kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa bumi melalui busana yang mereka kenakan saat Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia Tingkat Kota Kupang, Senin (17/8).

Wali Kota mengenakan pakaian adat Manggarai dengan warna dasar hitam, sementara Wakil Wali Kota mengenakan kain adat Sikka dengan warna dasar hitam. Pilihan busana tersebut bukan sekadar simbol budaya, tetapi menjadi pesan kepedulian dan dukungan Pemerintah Kota Kupang kepada masyarakat Flores yang sedang menghadapi musibah.

Warna hitam yang dikenakan keduanya juga menjadi bentuk bela sungkawa kepada para korban yang meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah di Flores.

Usai upacara, Wali Kota Christian Widodo menjelaskan kepada wartawan bahwa busana yang dikenakannya bersama Wakil Wali Kota sengaja dipilih sebagai bentuk solidaritas. “Hari ini saya mengenakan pakaian adat Manggarai, sedangkan Ibu Wakil Wali Kota mengenakan kain adat Sikka. Ini bentuk kepedulian dan dukungan kami kepada saudara-saudara kita di Flores yang terdampak gempa bumi,” jelasnya.

Ia menambahkan, warna dasar hitam yang dikenakan bersama Wakil Wali Kota juga memiliki makna khusus sebagai ungkapan belasungkawa bagi korban yang meninggal dunia. “Warna hitam ini adalah bentuk bela sungkawa kita. Kita ingin menyampaikan bahwa masyarakat Flores tidak sendiri. Ada duka yang kita rasakan bersama, dan Pemerintah serta masyarakat Kota Kupang berdiri bersama saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam amanat upacara, Wali Kota juga menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan akibat bencana gempa bumi di Flores. “Atas nama Pemerintah dan masyarakat Kota Kupang, saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Kita mendoakan saudara-saudari kita yang terdampak agar diberi kekuatan, keselamatan dan ketabahan,” tuturnya.

Pesan solidaritas tersebut menjadi bagian penting dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Kupang. Bagi Wali Kota, kemerdekaan tidak hanya dimaknai melalui upacara dan perayaan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap sesama, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan. “Mari kita tunjukkan bahwa kemerdekaan juga memiliki wajah kemanusiaan. kita tidak boleh membiarkan saudara kita menghadapi kesulitan seorang diri,” tegasnya.

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo bertindak sebagai Inspektur Upacara pada Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia Tingkat Kota Kupang yang berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang.

Upacara berlangsung khidmat dan diikuti jajaran Pemerintah Kota Kupang, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI dan Polri, instansi vertikal, veteran pejuang kemerdekaan, tokoh agama dan tokoh masyarakat, perangkat daerah, camat dan lurah se-Kota Kupang, ASN, kepala sekolah, guru, serta para pelajar.

Turut hadir Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francis, S.Sos., M.Sc., Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Edward Pelt, S.H., Ketua dan para Anggota DPRD Kota Kupang, Forkopimda Kota Kupang, pimpinan instansi vertikal, pimpinan partai politik, Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Kota Kupang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, Ketua KPU dan Bawaslu Kota Kupang, Ketua PGRI, Ketua Forum Bela Negara, Direktur RSUD dan pimpinan perusahaan umum daerah, serta para kepala sekolah dan siswa-siswi SD, SMP dan MTs se-Kota Kupang.

Dalam amanatnya, Wali Kota mengajak seluruh peserta memaknai kemerdekaan sebagai amanah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kemerdekaan harus hadir dalam bentuk pendidikan yang lebih baik, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, ekonomi yang membuka kesempatan, pemerintahan yang cepat dan adil, serta kehidupan masyarakat yang aman dan bermartabat. “Dulu para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Tugas kita hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu benar-benar dirasakan rakyat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan Kota Kupang tidak cukup hanya membangun jalan, gedung dan infrastruktur, tetapi juga harus membangun manusia yang sehat, terdidik, terampil dan berkarakter. “Sebab pada akhirnya kemajuan sebuah kota bukan hanya terlihat dari apa yang dibangun, tetapi dari kualitas manusia yang tumbuh di dalamnya,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengapresiasi Paskibraka Kota Kupang yang telah menjalankan tugas dengan baik. Ia berpesan agar nilai disiplin, kerja keras dan kebersamaan yang diperoleh selama latihan menjadi bekal dalam menghadapi kehidupan.

Selain persoalan pembangunan, Wali Kota menyinggung langkah Pemerintah Kota Kupang dalam merespons persoalan kelangkaan dan tingginya harga minyak tanah dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah, katanya, turun langsung memastikan distribusi berjalan baik, masyarakat di sekitar pangkalan mendapatkan pelayanan dan mencegah penimbunan maupun pembelian berlebihan untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Pemerintah Kota Kupang juga terus berkoordinasi untuk mengupayakan penambahan kuota minyak tanah. “Pesannya sederhana, kebutuhan rakyat harus didahulukan. Negara harus hadir untuk memudahkan rakyat, bukan membuat rakyat semakin sulit,” tegasnya.

Dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Pemerintah Kota Kupang juga menghadirkan program Bapenda Merah Putih berupa pengurangan denda Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebesar 25 hingga 75 persen bagi masyarakat yang memiliki tunggakan, sesuai tahun tunggakan. Program tersebut berlaku selama 1–31 Agustus 2026.

Wali Kota mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai bagian dari gotong royong membangun daerah. “Pemerintah wajib mengelolanya secara transparan dan bertanggung jawab. Masyarakat mengambil bagian dengan memenuhi kewajibannya. Dari sinilah kemandirian daerah kita dibangun,” jelasnya.

Mengakhiri amanatnya, Wali Kota menegaskan bahwa kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kerja dan pelayanan nyata.

“Bagi ASN, kemerdekaan berarti bekerja dengan integritas dan melayani dengan sungguh-sungguh. Bagi dunia usaha, kemerdekaan berarti membuka kesempatan dan menciptakan lapangan kerja. Bagi masyarakat, kemerdekaan berarti ikut menjaga ketertiban, membayar pajak, menjaga lingkungan dan mengambil bagian dalam pembangunan. Dan bagi kita semua, kemerdekaan berarti menjaga persatuan dan kepedulian,” pungkasnya. *PKP_yesti ola/ansel ladjar*

Siaran Pers oleh Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kupang

Kembali