Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Wali Kota Tegaskan Pancasila Sebagai Fondasi Penjaga Harmoni

Senin, 01 Juni 2026 | 21:31:43
Gambar Berita

Foto: PKP_eman hala/abi letman/tonny ga

Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 Tingkat Kota Kupang yang mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, di Lapangan Upacara Kantor Wali Kota Kupang, Senin (1/6).

Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, para Staf Ahli Wali Kota, para Asisten Sekda, Ketua TP PKK Kota Kupang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Kupang, pimpinan perangkat daerah, para camat dan lurah se-Kota Kupang, ASN lingkup Pemerintah Kota Kupang, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, serta berbagai unsur masyarakat lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Kupang membacakan Pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi. Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa Hari Lahir Pancasila bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi untuk memastikan nilai-nilai Pancasila terus hidup dalam setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disebutkan bahwa tema peringatan tahun ini menegaskan relevansi Pancasila tidak hanya sebagai pemersatu bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai fondasi dalam mewujudkan perdamaian dunia. Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik, Pancasila tetap menjadi jangkar moral yang menjaga Indonesia tetap kokoh dan bersatu dalam keberagaman.

Usai membacakan sambutan Kepala BPIP, Wali Kota Kupang menyampaikan pesan khusus kepada seluruh peserta upacara. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Kota Kupang bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus terus dijaga bersama.

“Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan. Dan kita semua selalu bisa hidup dalam sebuah harmoni,” ujarnya.

Wali Kota menjelaskan bahwa harmoni tidak berarti semua orang harus sama atau seragam, melainkan hidup dalam keseimbangan dan saling menghargai perbedaan yang ada. Ia mengibaratkan Kota Kupang seperti kain tenun yang tersusun dari berbagai warna, motif, dan pola yang berbeda, namun menghasilkan keindahan ketika dirangkai secara proporsional.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fondasi utama yang menjaga harmoni tersebut adalah Pancasila. Menurutnya, Pancasila memiliki kedekatan historis dengan Nusa Tenggara Timur karena lahir dari perenungan Bung Karno di Ende.

“Pancasila adalah sumbangan terbaik masyarakat Nusa Tenggara Timur kepada Indonesia. Karena itu, Pancasila tidak boleh hanya dihafal atau diucapkan saat upacara, tetapi harus hidup dalam tindakan dan perilaku kita sehari-hari,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk mensyukuri perjalanan panjang Kota Kupang yang baru saja memperingati usia ke-140 tahun dan 30 tahun sebagai daerah otonom.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat, ASN, TNI, Polri, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga keamanan, ketertiban, dan pembangunan Kota Kupang hingga saat ini.

Menurutnya, makna otonomi daerah bukan sekadar soal kewenangan pemerintahan, tetapi bagaimana menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah untuk mempercepat tindak lanjut berbagai surat dan aspirasi masyarakat yang telah didisposisikan agar pelayanan publik dapat berjalan lebih efektif dan responsif.

Wali Kota juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya persoalan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi bagaimana menjaga semangat toleransi, persaudaraan, dan ruang sosial yang damai, terutama bagi generasi muda.

“Bangsa tidak runtuh ketika gedung-gedungnya hancur. Bangsa runtuh ketika rasa persaudaraan di antara rakyatnya hilang,” ungkapnya.

Mengutip pemikiran Henry Ford, Wali Kota menyampaikan bahwa datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, dan mampu bekerja bersama merupakan sebuah kesuksesan.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan memperkuat persatuan.
“Mari kita buktikan bahwa keberagaman di Kota Kupang bukan alasan untuk terpisah, tetapi alasan untuk semakin kuat sebagai satu keluarga besar. Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meski berbeda,” ajaknya.

Ia menambahkan, apabila nilai-nilai Pancasila terus hidup di hati masyarakat, maka Indonesia akan tetap kuat, dan Kota Kupang akan terus menjadi rumah yang nyaman, aman, damai, serta penuh harapan bagi semua orang.

Rangkaian upacara ditutup dengan penyerahan secara simbolis bantuan bangku taman kepada Pemerintah Kota Kupang dari Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Fakultas Teknik Dili Institute of Technology (DIT) Timor-Leste. Bantuan tersebut diserahkan oleh Dekan Fakultas Teknik Unwira, Dr. Don Gaspar N. Da Colista, S.T., M.T., dan diterima langsung oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.

Penyerahan bantuan tersebut menjadi simbol kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam mendukung penataan ruang publik yang lebih nyaman, estetis, dan ramah bagi masyarakat Kota Kupang. *PKP_enjel lasbaun/nina tiara*

Siaran Pers oleh Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Kupang

Kembali